Wakaka akhirnya keluar juga ni pernyataan yup akhirnya PERTAMINA menaikan harga elpiji, dan yang lebih parah lagi kenaikan akan terus dilakukan tiap bulannya(bahasa halusnya di evaluasi tiap bulan). Seperti tulisan saya di blog ini beberapa waktu lalu, kelangkaan dan kenaikan harga sebenarnya telah terjadi di beberapa daerah sejak beberapa bulan lalu. Yang menjadi pertanyaan saya bukankah produksi gas tiap tahun terus meningkat?Walaupun permintaan konsumsi juga meningkat tapi hal ini juga di barengi dengan meningkatnya produksi, dan jangan pernah menyalahkan konsumsi masyarakat awam, karena peningkatan konsumsi gas elpiji juga atas berkat kebijakan konversi minyak tanah ala pemerintah.
Terlihat sekali bahwa hal ini seperti jebakan tikus, di satu sisi masyarakat di suruh menggunakan gas elpiji, tetapi beberapa saat setelah masyarakat menggunakan gas dan minyak tanah telah di tarik dari pasaran kemudian harga gas elpiji di naikan. Masyarakat pun seperti dalam situasi maju kena mundur pun kena, mau beli gas harga sudah naik dan langka, mau membeli minyak tanah sudah langka, kalaupun ada harganya selangit, yang menjadi alternatif masyarakat akrhinya membeli gas elpiji program konversi(ukuran 3kg). Hal ini justru bertentangan dengan program konversi itu sendiri dimana yang menjadi sasaran adalah masyarakat menengah yang kesulitan untuk membeli gas ukuran 12 kg, jadi dapat disimpulkan akhirnya program konversi tidak sampai sasaran, karena yang membeli justru dari kalangan masyarakat yang mampu.
Tribute to pertamina & the goverment. Yes we’re bleeding
Baru beberapa hari yang lalu sempat membaca seorang juara catur dari riau tidak bisa pulang ke daerah asal karena tidak punya ongkos, setelah bertemu dengan yang terhormat bapak presiden. Lalu hari ini ada lagi berita serupa kali ini penari asal NTT terlantar di jakarta. Cerita lama di negeri ini.
Yang membuat saya kaget si pecatur bicara “Sekarang saya kapok main catur lagi. Kalaupun mau main, karena saya suka”. Waduh look at that my man, what u have done, gara2 keteledoran oknum gila anak berprestasi terancam kehilangan masa depan. Saya membayangkan bagaimana kalo vladimir kramnik lahir di Indonesia mungkin dia tidak akan menjadi pecatur, mungkin lebih memilih jadi anggota dewan yang terhormat ato pengusaha busuk.
Saran dari saya buat si pecatur lakukan semua itu demi diri sendiri, lakukan demibangsa dan negara, bukan demi pemerintah yang bebal. Negara bukan pemerintah, pemerintah hanya pengurus negara.
Saya ingat perkataan org tua saya, “jangan pernah bergantung dengan siapa pun, jangan pernah berharap pada sesuatu yang lain. Berusaha sendiri, berdiri sendiri”
Kemarin lusa saya menonton di tvone, entah apa judul acaranya. Yang pasti disana hadir para calon walikota bandung, juga hadir para panelis(ga tau bener ga istilahnya) ada 3 orang yang menanyai para calon walikota tersebut. Panelisnya cukup aneh menurut saya, para panelis semuanya datang dari perguruan tinggi, tanpa bermaksud mendeskreditkan pihak manapun, saya tidak meragukan kapabilitas dan kapasitas mereka dalam bidang mereka masing2, tapi kalo menurut saya alangkah lebih baik jika para panelis tidak semuanya dari kalangan akademisi, mungkin dapat dari kalangan masyarakat biasa, dari kalangan birokrat, para anggota dewan atopun para pengamat politik, ekonom dan lain2. Dari pengamatan saya 1 org panelis pertanyaannya hanya seputar itu2 saja, “bagaimana nanti pendidikan perguruan tinggi di bandung”.
Tadi baca berita di detik, judul ny “Setiap Hari Rumah di Palembang Alami Pemadaman Listrik“. Bagi penduduk asli Palembang pasti aneh, yang seperti ini kok di beritain??? Ini mah bukan sesuatu yang aneh bagi daerah saya, Sumsel, tiada hari tanpa mati lampu. Saya Prabumulih Sumsel setiap pulang ke sana pasti selalu dan selalu terjadi pemadaman listrik, paling tidak dalam 3 hari terjadi 1 x pemadaman,ini pasti terjadi, sukur2 kalo cuma sebentar tapi kalo lagi sial bisa2 sampe malem tidak nyala2. Jika lagi musim hujan itu paling horor, setiap hujan deras turun bisa di pastikan listrik padam, alasannya selalu sama gardu disambar petir, kabel putus, lha saya di jakarta kok ga mati lampu yak kalo lagi hujan deras sekalipun?!? Dan hal ini bukan terjadi akhir2 ini saja, bullshit la alasan krisis energi, sebisa yang saya ingat pemadaman oleh PLN telah berlangsung sejak saya SMP skitar 8-7 thn yg lalu, itu pun yang saya ingat, mungkin kenyataannya lebih parah mungkin dari semenjak saya belum lahir. Apa lagi yang menjadi alasan?!Oi kami bayar listrik oi dak gratisan!Kemano itu duit kami?????
Lain lagi kalo buat Very Very Important Person, tidak ada kata pemadaman bagi mereka, rumah yang sang terhormat bapak dan bapak2 yang lain jarang terjadi pemadaman, jika pun terjadi frekuensi nya jauh lebih jarang dari pada rumah rakyat jelata. Jalur listrik mereka tidak padam, beruntung org yang rumah ny dekat mereka, karena line listrik ny kemungkinan sama dgn Very Very Important Person dan ikut dampak tidak tersentuh pemadaman. Ato saya sadja yang tidak mengerti?!Mungkin memang saya saja yang tidak mengerti apa2, saya hanya org biasa bin norak.
Hal lain yang tak kalah aneh ketika saya pulang ke Prabumulih, skitar tgl 7 july 2008, sedang terjadi kelangkaan gas elpiji?!WT*, jika pun ada hargany sangat tinggi, another story another joke. Yang benar saja bukankah di sini daerah sumber minyak & gas bumi?? Saya ingat dulu waktu masih SMP/SMA, saya punya sodara yang bekerja di pertamina, saya sering maen ke rumah nya, dari yang saya ketahui dan lihat di dalam kompleks perumahan pertamina, setiap rumah mempunyai sebuah saluran gas, entah untk tujuan apa, dari yang saya lihat gas tersebut cuma di gunakan untuk membakar sampah, y membakar sampah pake gas bung, yg benar?!ato saya yang tidak mengerti entahla. Belum lagi mereka jika isi bensin free, air pun free, listrik pun free. Itu terjadi beberapa tahun yang lalu, sekarang entah saya sudah tidak terlalu peduli lagi. Dan sekarang gas elpiji pun susah di dapat, bicara soal harga ini lebih aneh lagi, saat keadaan biasa alias tidak lagi susah di dapat kok harga elpiji di tempat saya sedikit lebih mahal dari di jakarta? Aneh sungguh aneh, kalo kata sodara saya, kita ini bagai anak ayam yang mati di lumbung padi,o y yg bilang itu org pertamina sendiri bukan saya
Oh damn ternyata rekaman blackbox adamair yang sempat saya dengarkan bulan lalu dari sebuah forum menjadi hits, sempat saya post juga di blog . Semua media seperti biasa mengekspose habis2an masalah ini. Bang roy pun ga mau kalah, so pasti. Sudah cukup jangan mencari siapa yang salah lagi, siapa yang menyebarkan.
Terlepas asli ato palsu rekaman tersebut ambil hikmah saja dari semua ini. Kalau pun mau mencari yang salah menurut saya yang salah adalah birokrasi yang ada di negara ini. Di negara kita terlalu banyak Very Very Important Person, orang yang sangat penting, yang dengan mudahnya bisa mendapatkan apa saja, bisa mengakses informasi apapun, dengan kekuasaannya maupun uangnya dengan mudah mejadikan para birokrat sebagai kacung mereka. Alhasil ketika informasi itu bocor ke khalayak ramai barulah mereka panik, sibuk mencari siapa yang salah, lari dari tanggung jawab, ya ya strategi klasik yang biasa digunakan org kampung. Memangnya siapa yang bisa dapat akses file rekaman tersebut? Bukankah harusnya kalangan terbatas, tertutup dan terkontrol. Jika itu memang bukan isi dari blackbox yang asli y sudah ngapain repot, kasih klarifikasi ini itu, wawancara ini itu, capek2 in badan sendiri, buang2 waktu, habisin duit negara. Katanya rekamannya itu palsu tetapi isinya mirip nyaris sama dengan rekaman blackbox yang asli, entah saya makin bingung.
Sudah jangan ekspose lagi, katanya penyebar rekaman itu menyakiti hati para korban, tapi kok malah mereka sendiri yang mengekspose?! Lihat di televisi di berita selalu di tanyangkan, bahkan tanpa segan2 rekamannya pun didengarkan, bukankah ini sama saja penyebaran besar2an pada publik? Kenapa bukan media yang ditangkap? Bukankah pengguna internet jauh lebih sedikit di bandingkan dengan pemirsa televisi. Damn that media, kompensasi apa yang mereka berikan pada keluarga korban? Padahal media mendapatkan pendapatan dari berita ini, dari iklan, apa kontribusi media di saat orang sedih berduka mereka malah meraup keuntungan, menari2 di atas penderitaan org. Saat ini media cuma jadi mesin kapitalisme, tanpa memperdulikan aspek kehidupan dan sosial. Tak jarang malah jadi alat penyebaran kebohongan publik.